This is default featured slide 1 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam. blogger theme by BTemplates4u.com.

This is default featured slide 2 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam. blogger theme by BTemplates4u.com.

This is default featured slide 3 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam. blogger theme by BTemplates4u.com.

This is default featured slide 4 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam. blogger theme by BTemplates4u.com.

This is default featured slide 5 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam. blogger theme by BTemplates4u.com.

Senin, 23 Mei 2011

Mendidik Anak Menjadi Generasi Yang Berkarakter dan Berakhlaq Qur’ani


Anak bagi seorang manusia adalah sebuah dambaan. Betapa gembiranya orang tua yang baru saja mendapatkan karunia seorang anak. Sebaliknya, jika pasangan suami isteri tidak segera mendapatkan karunia anak, mereka akan senantiasa diliputi reash dan gelisah. Ini semua menguatkan keyakinan kita, bahwa anak adalah sebuah karunia besar dari Allah kepada umat manusia.
Dalam menghadapi karunia, kewajiban kita sebagai seorang muslim dan mukmin adalah senantiasa bersyukur atas nikmat tersebut. Sukur yang dilakukan oleh seorang hamba akan melipatgandakan kenikmatan yang diperolehnya. Sebaliknya apabila seseorang tidak bisa bersyukur di kala mendapatkan nikmat, kenikmatan itu bisa menjadi adzab yang pedih, sebagaimana firman Allah
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Sungguh jika kalian bersyukur, niscaya akan Aku tambah (nikmat) bagi kalian. Dan jika kalian kufur (tidak bersyukur) sesungguhnya adzabKu benar-benar pedih (QS Ibrahim:7)
Ma’asyiral muslimin rahimahullah,
Kelahiran seorang anak, selain sebagai nikmat juga merupakan amanah dan ujian dari Allah. Setiap orang tua yang diberi karunia anak, berarti ia mendapatkan amanat untuk mempertahankan benih-benih keimanan yang telah ada di dalam dirinya, dan mengembangkan supaya kelak tumbuh subur di saat ia dewasa. Rasulullah saw bersabda
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
”Setiap yang terlahir, ia dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orangtuanya lah yang menjadikannya Yahudi, nasrani, atau majusi” (HR al-Bukhari)
Hadis ini menyiratkan peran orang tua dalam membina keimanan seorang anak. Allah telah menanamkan jiwa fitrah, jiwa tauhid, di dalam diri setiap anak, lalu apa yang diperbuat oleh orang tua dalam membesarkan anaknya. Dididik menjadi yahudi, nasrani, Majusi, atau dijaganya dan dirawatnya benih keimanan yang bernama fitrah ini sehingga ketika si anak menjadi dewasa ia memiliki jiwa yang beriman dan bertaqwa.
Penjagaan fitrah ini merupakan salah satu tugas dan tanggung jawab orang tua, sebagaimana difirmankan oleh Allah
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka.” (Qs At-Tahrim: 6).
Perlu kita sadari bahwa tujuan pendidikan di dalam Islam bukan hanya transfer ilmu dari guru kepada murid, dari orang tua kepada anak. Pendidikan hakekatnya adalah transfer nilai, transfer kepribadian. Tujuannya ialah untuk membentuk pribadi yang cinta Allah dan RasulNya, bersegerah melaksanakan apa yang diperintahkan Allah dan RasulNya. Kecintaan kepada Allah dan Rasulullah saw itu akan mendorong seseorang untuk senantiasa melakukan amaliah keseharian yang mencerminkan akhlak dan pribadi yang mulia dan terpuji tersebut.
Oleh karena itu, wajib bagi setiap orang tua dan juga para pendidik untuk mencurahkan segenap kemampuan yang dimilikinya untuk melaksanakan tugas pendidikan yang benar dalam kaca mata Islam. Dan sekaligus menjauhkan generasi ini dari pendidikan ala Barat yang hanya memprioritaskan masalah materi dan urusan duniawi semata.
Pendidikan ala Barat yang selama ini masih dilaksanakan oleh bangsa kita sebenarnya sudah menampakkan tanda-tanda kegagalan. Pendidikan Barat yang hanya berorientasi pada materi hanya melahirkan generasi yang rakus kepada harta dan jabatan. Akibatnya mereka akan merusak segala fasilitas dunia yang telah disediakan oleh Allah untuk kepentingan diri mereka saja. Rasulullah saw bersabda;
مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلاَ فِى غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ
Tidaklah dua ekor serigala yang lapar dilepaskan di dalam kawanan domba akan lebih merusak daripada rusaknya agama seseorang karena rakusnya kepada harta dan jabatan. (HR at-Tirmidzi)
Jika pendidikan yang kita saksikan selama ini bukanlah pendidikan Islam, lalu seperti apakah pendidikan Islam itu?
Allah subhanahu wata’ala telah memberikan gambaran yang cukup jelas tentang pendidikan Islam melalui lisan seorang ahli hikmah yang bernama Luqman. Wasiat-wasiat luqman kepada puteranya sarat berisi falsafah dasar pendidikan Islam. Dan wasiat-wasiat tersebut telah diabadikan di dalam al-Qur’an, tepatnya surat luqman ayat 12 hingga 19.
Pokok-pokoik pikiran pendidikan luqman dapat kita ringkaskan sebagai berikut;
1- Tauhid yang murni.
Hal ini tercermin di dalam wasiatnya;
يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Wahai anakku, janganlah kau menyekutukan Allah. Sesungguhnya syirik itu adalah kedhaliman yang sangat besar (Luqman:13)
Tauhid dalam pendidikan Islam adalah asas, karena hak Allah adalah kewajiban utama dan pertama bagi manusia. Tauhid adalah kunci kesuksesan hidup di dunia dan akhirat. Tauhid ini pula lah yang akan mencetak hidup seseorang sehingga terpola dengan akhlak karimah.
2- Akhlak Mulia
Akhlak mulia adalah cerminan dari tauhid dan keimanan seseorang. Rasulullah saw bersabda;
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا
Sesempurna sempurna iman seseorang adalah yang paling baik akhlaknya. (HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi)
Banyak sekali Luqman mewasiatkan akhlak ini; yang tertama dan paling ditekankan adalah agar seorang anak bisa berbakti kepada orang tuanya. Hal ini tercermin di dalam firman Allah
وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu (QS Luqman:14)
Selain mengajarkan bakti kepada orang tua, pokok pengajaran akhlak ini disampaikan oleh Luqman dalam bentuk sikap rendah hati dan tidak sombong. Firman Allah;
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا
Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. (QS Luqman:18)
Selain sikap tawadlu’ ini, Luqman juga mengajarkan agar menjaga sopan santun dalam berbicara, sebagaimana firman Allah
وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ
Dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. (QS Luqman:19)
Melunakkan suara tentu bukan berarti berbicara dengan suara pelan yang tidak terdengar oleh orang lain. Ayat ini bermakna agar kata-kata yang terucap bukanlah kata-kata kasar yang tidak nyaman di telinga pendengar.
Memang, menjalankan ketaatan itu berat, namun itulah kewajiban yang harus ditaati dengan penuh kesabaran. Dan sabar ini adalah akhlak mulia yang harus tertanam kuat, dan juga diwasiatkan oleh Luqman
وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ
Dan bersabarlah terhadap apa-apa yang menimpamu (QS Luqman:17)
3- Disiplin beribadah
Pesan luqman kepada anaknya di antaranya adalah agar senantiasa menjaga shalat, sebagaimana firman Allah;
يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ
Wahai ananda, tegakkanlah shalat… (QS Luqman:17)
Shalat adalah kewajiban pertama bagi setiap mukmin dan muslim, dan shalat ini pula wasiat terakhir para nabi. mewakili kewajiban ibadah seorang mukmin. Shalat adalah standard keagamaan seseorang, jika shalatnya baik maka agamanya akan cendeurng baik. Karena itulah hal pertama yang akan ditanyakan di akhirat adalah shalat, sebagaimana sabda Rasulullah saw;
إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ النَّاسُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ أَعْمَالِهِمُ الصَّلاَةُ
Yang pertama-tama dihisab dari manusia pada hari kiamat kelak di antara amal-amal mereka adalah shalat (HR Abu Dawud)
4- Komitmen pada kebenaran
Ini adalah satu sikap yang mendasari karakter keislaman seseorang. Sebagai wujud komitmen keislaman seseorang adalah aktifitas amar ma’ruf dan nahi munkar, sebagaimana diwasiatkan oleh Luqman ;
وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ
Dan perintahkanlah untuk berbuat ma’ruf (kebaikan) dan cegahlah perbuatan munkar (kejahatan) (QS Luqman :17)
Hanya orang yang benar-benar memiliki komitmen pada kebenaran sajalah yang sanggup melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar. Orang yang tidak memiliki komitmen pada kebenaran, bagaimana ia akan melakukan amar ma’ruf jika dirinya tidak memiliki sense untuk melakukannya. Dan juga bagaimana akan mencegah kemunkaran jika dirinya selalu bergelimang dengan kemungkaran.
Apabila amar ma’ruf nahi munkar sudah menjadi tradisi masyarakat, maka menunjukkan bahwa komitmen kepada kebenaran sudah benar-benar mengakar kuat. Dan ini menjadi tanda kemajuan ummat ini, sebagaimana firman Allah
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ
Kalian adalah sebaik-baik ummat yang dikeluarkan kepada manusia, kalian memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah kemunkaran (Ali Imran :110)
Ayat ini mengaitkan antara citra umat terbaik dan amar ma’ruf nahi munkar. Ini mengisyaratkan bahwa standar kebaikan suatu ummat terletak pada kesadaran melaksanakan tugas amar ma’ruf nahi munkar ini.

jika kita ingin memiliki generasi yang baik atau lebih baik dari generasi sekarang ini, maka kuncinya terletak dalam masalah pendidikan. Dan Pendidikan yang benar berporoskan pada pembinaan aqidah tauhid, penanaman akhlak yang mulia, disiplin beribadah, dan komitmen pada kebenaran.
Setiap kita pasti menginginkan agar memiliki anak yang shalih dan shalihah. Allah telah mengajarkan kepadam kita agar selalu memohon supaya anak-anak kita menjadi anak yang menyenangkan hati. Anak yang menyenangkan hati itu adalah anak shalih, sebab mereka adalah anak yang berbakti kepada kedua orang tua baik di kala masih hidup maupun setelah wafatnya.
Rasulullah saw menjelaskan bahwa anak yang shalih akan senantiasa memberikan sumbangan pahala kepada seseorang meskipun dirinya telah meninggal dunia
إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
Apabila manusia telah meninggal, maka semua amalnya akan terputus kecuali tiga perkara. (Yaitu: ) shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendo’akannya. (HR Muslim).
Memiliki anak yang shalih merupakan idaman setiap orang tua. Tetapi, usaha mencetak dan membentuk seorang anak menjadi shalih bukanlah pekerjaan mudah, tidak seperti membalikkan kedua telapak tangan. Usaha ini membutuhkan curahan usaha, pikiran, waktu dan harta.
Jika kita menyaksikan fenomena yang nampak sekarang ini, betapa sedikitnya orang tua yang betul-betul berusaha mendidik putra-putrinya dengan pendidikan yang benar. Yang terjadi saat ini, para orang tua lebih bersemangat memberikan pendidikan umum daripada pendidikan secara Islam. Seakan mereka memiliki persangkaan, jika telah berhasil memberikan pendidikan tinggi dengan mendapatkan gelar atau jabatan tinggi, berarti ia telah berhasil dan sukses mendidik dan memberi tarbiyah kepada anak-anaknya.
Betapa sedikitnya para pendidik di lembaga-lembaga pendidikan yang berusaha sekuat tenaga mengentaskan anak-anak didiknya dari kegelapan menuju jalan kebaikan, bahkan realita membuktikan yang sebaliknya, yaitu pendidikan ala kadarnya saja tanpa dibarengi dengan kesemangatan kerja. Bagaimana mungkin mereka mau memberikan pendidikan yang benar, bila mereka sendiri masih bergelimang dengan berbagai macam dosa dan kemaksiatan.
Mayoritas orang tua masih terpedaya dengan keyakinan semu, bahwa semakin tinggi jenjang sekolah yang diraih akan menghasilkan duniawi yang berlebih. Semakin banyak title yang didapat, maka kebahagiaan dunia ada dalam genggaman. Itulah pendidikan yang hanya memprioritaskan masalah materi semata, tanpa mempertimbangkan aspek-aspek keluhuran budi pekerti dan akhlak islami. Mereka lalai, bahwa harta dan kedudukan bukanlah segala-segalanya dalam kehidupan. Justru hati dan keimananlah yang merupakan pondasi kebahagian dunia. Dengan ketentraman hati dan kekuatan keimanan, dunia akan terasa lebih luas dan menyenangkan. Sebaliknya, dengan egoisnya hati dan minimnya keimanan, maka dunia akan terasa sempit dan menyesakkan.
Maka berangat dari sinilah, marilah kita perbaharui paradigma pendidikan kita. Kita perbaiki orientasi pendidikan kita. Marilah kita perhatikan pendidikan agama, agar anak-anak kita menjadi anak shalih, yang bisa mendo’akan orang tuanya, dan senantiasa mengalirkan pahala kepada kita setelah wafat kita kelak
Semoga kita semua termasuk orang tua dan pendidik yang sukses dalam memberikan pendidikan dan selalu dibimbing Allah dalam mendidik keluarga maupun masyarakat. Sehingga kita mampu melahirkan generasi Rabbani yang senantiasa menghabiskan hidupnya di jalan Allah. 
Wallahu'alam bisshowab"

Rabu, 18 Mei 2011

AQIDAH IMAM SYAFII (W. 204 H.)


Alhamdulillah Puji puja dan sukurku tak henti-hentinya kepada pemilik alam semesta ini, pengatur hidup makhluk ini, pengasih dan penyayang setiap makhluknya, maha adil, maha bijaksana, maha pengampun hambanya yang kembali kepadanya. Sholawat dan Salam Allah, Malaikat dan semua makhluk, tetap tercurah tanpa henti-hentinya kepada makhluk yang paling mulia, kekasih raja alam, pemimpin manusia, Nabi muhammad SAW, beserta keluarga, para sohabat, tabi’in, tabi’u tabi’in, dan semua yang mengikuti mereka hingga Akhir alam ini.
Bismillaahirrohmaanirrohiim
Imam asy-Syafi’i Muhammad ibn Idris (w. 204 H), seorang ulama Salaf terkemuka perintis madzhab Syafi’i, berkata:

إنه تعالى كان ولا مكان فخلق المكان وهو على صفة الأزلية كما كان قبل خلقه المكان ولا يجوز عليه التغير في ذاته ولا التبديل في صفاته (إتحاف السادة المتقين بشرح إحياء علوم الدين, ج 2، ص 24)

“Sesungguhnya Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat. Kemudian Dia menciptakan tempat, dan Dia tetap dengan sifat-sifat-Nya yang Azali sebelum Dia menciptakan tempat tanpa tempat. Tidak boleh bagi-Nya berubah, baik pada Dzat maupun pada sifat-sifat-Nya” (LIhat az-Zabidi, Ithâf as-Sâdah al-Muttaqîn…, j. 2, h. 24).
Dalam salah satu kitab karyanya; al-Fiqh al-Akbar [selain Imam Abu Hanifah; Imam asy-Syafi'i juga menuliskan Risalah Aqidah Ahlussunnah dengan judul al-Fiqh al-Akbar], Imam asy-Syafi’i berkata:

واعلموا أن الله تعالى لا مكان له، والدليل عليه هو أن الله تعالى كان ولا مكان له فخلق المكان وهو على صفته الأزلية كما كان قبل خلقه المكان، إذ لا يجوز عليه التغير في ذاته ولا التبديل في صفاته، ولأن من له مكان فله تحت، ومن له تحت يكون متناهي الذات محدودا والحدود مخلوق، تعالى الله عن ذلك علوا كبيرا، ولهذا المعنى استحال عليه الزوجة والولد لأن ذلك لا يتم إلا بالمباشرة والاتصال والانفصال (الفقه الأكبر، ص13)

“Ketahuilah bahwa Allah tidak bertempat. Dalil atas hal ini adalah bahwa Dia ada tanpa permulaan dan tanpa tempat. Setelah menciptakan tempat Dia tetap pada sifat-Nya yang Azali sebelum menciptakan tempat, ada tanpa tempat. Tidak boleh pada hak Allah adanya perubahan, baik pada Dzat-Nya maupun pada sifat-sifat-Nya. Karena sesuatu yang memiliki tempat maka ia pasti memiliki arah bawah, dan bila demikian maka mesti ia memiliki bentuk tubuh dan batasan, dan sesuatu yang memiliki batasan mestilah ia merupakan makhluk, Allah Maha Suci dari pada itu semua. Karena itu pula mustahil atas-Nya memiliki istri dan anak, sebab perkara seperti itu tidak terjadi kecuali dengan adanya sentuhan, menempel, dan terpisah, dan Allah mustahil bagi-Nya terbagi-bagi dan terpisah-pisah. Karenanya tidak boleh dibayangkan dari Allah adanya sifat menempel dan berpisah. Oleh sebab itu adanya suami, istri, dan anak pada hak Allah adalah sesuatu yang mustahil” (al-Fiqh al-Akbar, h. 13).
Pada bagian lain dalam kitab yang sama tentang firman Allah QS. Thaha: 5 (ar-Rahman ‘Ala al-‘Arsy Istawa), Imam asy-Syafi’i rahimahullah menegaskan secara memberikan nasehat kepada kaum Muslimin dengan berkata berkata:

إن هذه الآية من المتشابهات، والذي نختار من الجواب عنها وعن أمثالها لمن لا يريد التبحر في العلم أن يمر بها كما جاءت ولا يبحث عنها ولا يتكلم فيها لأنه لا يأمن من الوقوع في ورطة التشبيه إذا لم يكن راسخا في العلم، ويجب أن يعتقد في صفات الباري تعالى ما ذكرناه، وأنه لا يحويه مكان ولا يجري عليه زمان، منزه عن الحدود والنهايات مستغن عن المكان والجهات، ويتخلص من المهالك والشبهات (الفقه الأكبر، ص 13)

“Ini termasuk ayat mutasyâbihât. Jawaban yang kita pilih tentang hal ini dan ayat-ayat yang semacam dengannya bagi orang yang tidak memiliki kompetensi di dalamnya adalah agar mengimaninya dan tidak –secara mendetail– membahasnya dan membicarakannya. Sebab bagi orang yang tidak kompeten dalam ilmu ini ia tidak akan aman untuk jatuh dalam kesesatan tasybîh. Kewajiban atas orang ini –dan semua orang Islam– adalah meyakini bahwa Allah seperti yang telah kami sebutkan di atas, Dia tidak diliputi oleh tempat, tidak berlaku bagi-Nya waktu, Dia Maha Suci dari batasan-batasan (bentuk) dan segala penghabisan, dan Dia tidak membutuhkan kepada segala tempat dan arah, Dia Maha suci dari kepunahan dan segala keserupaan” (al-Fiqh al-Akbar, h. 13).
Secara panjang lebar dalam kitab yang sama, Imam asy-Syafi’i membahas bahwa adanya batasan (bentuk) dan penghabisan adalah sesuatu yang mustahil bagi Allah. Karena pengertian batasan (al-hadd; bentuk) adalah ujung dari sesuatu dan penghabisannya. Dalil bagi kemustahilan hal ini bagi Allah adalah bahwa Allah ada tanpa permulaan dan tanpa bentuk, maka demikian pula Dia tetap ada tanpa penghabisan dan tanpa bentuk. Karena setiap sesuatu yang memiliki bentuk dan penghabisan secara logika dapat dibenarkan bila sesuatu tersebut menerima tambahan dan pengurangan, juga dapat dibenarkan adanya sesuatu yang lain yang serupa dengannya. Kemudian dari pada itu “sesuatu” yang demikian ini, secara logika juga harus membutuhkan kepada yang menjadikannya dalam bentuk dan batasan tersebut, dan ini jelas merupakan tanda-tanda makhluk yang nyata mustahil bagi Allah.
Imam asy-Syafi’i, seorang Imam mujtahid yang madzhabnya tersebar di seluruh pelosok dunia, telah menetapkan dengan jelas bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah, maka bagi siapapun yang bukan seorang mujtahid tidak selayaknya menyalahi dan menentang pendapat Imam mujtahid. Sebaliknya, seorang yang tidak mencapai derajat mujtahid ia wajib mengikuti pendapat Imam mujtahid.
Jangan pernah sedikitpun anda meyakini keyakinan tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya), seperti keyakinan kaum Musyabbihah, (sekarang Wahhabiyyah) yang menetapkan bahwa Allah bertempat di atas arsy. Bahkan mereka juga mengatakan Allah bertempat di langit. Ada di dua tempat ?! Heh!!! Padahal mereka yakin bahwa arsy dan langit adalah makhluk Allah. Na’udzu Billahi Minhum.
MENGENAL TENTANG AYAT-AYAT  TASYBIH
Mengenai ayat mutasyabih yang sebenarnya para Imam dan Muhadditsin selalu berusaha menghindari untuk membahasnya, namun justru sangat digandrungi oleh sebagian kelom pok muslimin sesat masa kini, mereka selalu mencoba menusuk kepada jantung tauhid yang sedikit saja salah memahami maka akan terjatuh dalam jurang kemusyrikan, seperti membahas bahwa Allah ada dilangit, mempunyai tangan, wajah dll yang hanya membuat kerancuan dalam kesucian Tauhid ilahi pada benak muslimin, akan tetapi karena semaraknya masalah ini diangkat ke permukaan, maka perlu kita perjelas mengenai ayat ayat dan hadits tersebut.
Sebagaimana makna Istiwa, yang sebagian kaum muslim in sesat sangat gemar membahasnya dan mengatakan bahwa Allah itu bersemayam di Arsy, dengan menafsirkan kalimat ”ISTIWA” dengan makna ”BERSEMAYAM atau ADA DI SUATU TEMPAT” , entah darimana pula mereka menemukan makna kalimat Istawa adalah semayam, padahal tak mungkin kita katakan bahwa Allah itu bersemayam disuatu tempat, karena bertentangan dengan ayat ayat dan Nash hadits lain, bila kita mengatakan Allah ada di Arsy, maka dimana Allah sebelum Arsy itu ada?, dan berarti Allah membutuhkan ruang, berarti berwujud seperti makhluk, sedangkan dalam hadits qudsiy disebutkan Allah swt turun kelangit yang terendah saat sepertiga malam terakhir, sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Muslim hadits no.758, sedangkan kita memahami bahwa waktu di permukaan bumi terus bergilir,
Maka bila disuatu tempat adalah tengah malam , maka waktu tengah malam itu tidak sirna, tapi terus berpindah ke arah barat dan terus ke yang lebih barat, tentulah berarti Allah itu selalu bergelantungan mengitari Bumi di langit yang terendah, maka semakin ranculah pemahaman ini, dan menunjukkan rapuhnya pemahaman mereka, jelaslah bahwa hujjah yang mengatakan Allah ada di Arsy telah bertentangan dengan hadits qudsiy diatas, yang berarti Allah itu tetap di langit yang terendah dan tak pernah kembali ke Arsy, sedangkan ayat itu mengatakan bahwa Allah ada di Arsy, dan hadits Qudsiy mengatakan Allah dilangit yang terendah.
Berkata Al hafidh Almuhaddits Al Im am Malik rahimahullah ketika datang seseorang yang bertanya makna ayat : ”Arrahm aanu ’alal Arsyistawa”, Imam Malik menjawab : ”Majhul, Ma’qul, Imaan bihi wajib, wa su’al ’anhu bid’ah (tdk diketahui maknanya, dan tidak boleh mengatakannya mustahil, percaya akannya wajib, bertanya tentang ini adalah Bid’ah Munkarah), dan kulihat engkau ini orang jahat, keluarkan dia..!”, demikian ucapan Imam Malik pada penanya ini, hingga ia mengatakannya : ”kulihat engkau ini orang jahat”, lalu mengusirnya, tentunya seorang Imam Mulia yang menjadi Muhaddits Tertinggi di Madinah Almunawwarah di masanya yang beliau itu Guru Imam Syafii ini tak sembarang mengatakan ucapan seperti itu, kecuali m enjadi dalil bagi kita bahwa hanya orang orang yang tidak baik yang mempermasalahkan masalah ini.
Lalu bagaimana dengan firman Nya : ”Mereka yang berbai’at padamu sungguh mereka telah berbai’at pada Allah, Tangan Allah diatas tangan mereka” (QS Al Fath 10), dan disaat Bai’at itu tak pernah teriwayatkan bahwa ada tangan turun dari langit yang turut berbai’at pada sahabat.
Juga sebagaimana hadits qudsiy yang mana Allah berfirman : ”Barangsiapa memusuhi waliku sungguh kuumumkan perang kepadanya, tiadalah hamba Ku mendekat kepada Ku dengan hal hal yang fardhu, dan Hamba Ku terus mendekat kepada Ku dengan hal hal yang sunnah baginya hingga Aku mencintainya, bila Aku mencintainya maka aku menjadi telinganya yang ia gunakan untuk mendengar, dan menjadi matanya yang ia gunakan untuk melihat, dan menjadi tangannya yang ia gunakan untuk memerangi, dan kakinya yang ia gunakan untuk melangkah, bila ia meminta pada Ku niscaya kuberi permintaannya….” (shahih Bukhari hadits no.6137) Maka hadits Qudsiy diatas tentunya jelas jelas menunjukkan bahwa pendengaran, penglihatan, dan panca indera lainnya, bagi mereka yang taat pada Allah akan dilimpahi cahaya kemegahan Allah, pertolongan Allah, kekuatan Allah, keberkahan Allah, dan sungguh maknanya bukanlah berarti Allah menjadi telinga, mata, tangan dan kakinya.
Masalah ayat/hadist tasybih (tangan/wajah) dalam ilmu tauhid terdapat dua pendapat/madzhab dalam menafsirkannya, yaitu:
1. Madzhab tafwidh ma’a tanzih
Madzhab ini mengambil dhahir lafadz dan menyerahkan maknanya kpd Allah swt, dengan i’tiqad tanzih (mensucikan Allah dari segala penyerupaan)
Ditanyakan kepada Imam Ahmad bin Hanbal masalah hadist sifat, ia berkata ”Nu’minu biha wa nushoddiq biha bilaa kaif wala makna”, (Kita percaya dengan hal itu, dan membenarkannya tanpa menanyakannya bagaimana, dan tanpa makna) Madzhab inilah yang juga di pegang oleh Imam Abu hanifah.
Dan kini muncullah faham mujjassimah yaitu dhohirnya memegang madzhab tafwidh tapi menyerupakan Allah dengan mahluk, bukan seperti para imam yang memegang madzhab tafwidh.
2. Madzhab takwil
Madzhab ini menakwilkan ayat/hadist tasybih sesuai dengan keesaan dan keagungan Allah swt, dan madzhab ini arjah (lebih baik untuk diikuti) karena terdapat penjelasan dan menghilangkan awhaam (khayalan dan syak wasangka) pada muslimin umumnya, sebagaimana Imam Syafii, Imam Bukhari,Imam Nawawi dll. (syarah Jauharat Attauhid oleh Imam Baajuri)
Pendapat ini juga terdapat dalam Al Qur’an dan sunnah, juga banyak dipakai oleh para sahabat, tabiin dan imam imam ahlussunnah waljamaah.
Seperti ayat :
”Nasuullaha fanasiahum” (mereka melupakan Allah maka Allah pun lupa dengan mereka) (QS Attaubah:67), dan ayat : ”Innaa nasiinaakum”. (sungguh kami telah lupa pada kalian QS Assajdah 14).
Dengan ayat ini kita tidak bisa menyifatkan sifat lupa kepada Allah walaupun tercantum dalam Alqur’an, dan kita tidak boleh mengatakan Allah punya sifat lupa, tapi berbeda dengan sifat lupa pada diri makhluk, karena Allah berfirman : ”dan tiadalah tuhanmu itu lupa” (QS. Maryam 64)
Dan juga diriwayatkan dalam hadtist Qudsiy bahwa Allah swt berfirm an : ”Wahai Keturunan Adam, Aku sakit dan kau tak menjenguk Ku, maka berkatalah keturunan Adam : Wahai Allah, bagaimana aku menjenguk Mu sedangkan Engkau Rabbul ’Alamin?, maka Allah menjawab : Bukankah kau tahu hamba Ku fulan sakit dan kau tak mau menjenguknya?, tahukah engkau bila kau menjenguknya maka akan kau temui Aku disisinya?” (Shahih Muslim hadits no.2569)
Apakah kita bisa mensifatkan sakit kepada Allah tapi tidak seperti sakitnya kita ?
Berkata Imam Nawawi berkenaan hadits Qudsiy diatas dalam kitabnya yaitu Syarah Annawawiy alaa Shahih Muslim bahwa yang dimaksud sakit pada Allah adalah hamba Nya, dan kemuliaan serta kedekatan Nya pada hamba Nya itu, ”wa ma’na wajadtaniy indahu ya’niy wajadta tsawaabii wa karoomatii indahu” dan makna ucapan : akan kau temui aku disisinya adalah akan kau temui pahalaku dan kedermawanan Ku dengan menjenguknya (Syarh Nawawi ala shahih Muslim Juz 16 hal 125)
Dan banyak pula para sahabat, tabiin, dan para Imam ahlussunnah waljamaah yang berpegang pada pendapat Ta’wil, seperti Imam Ibn Abbas, Imam Malik, Imam Bukhari, Imam Tirmidziy, Imam Abul Hasan Al Asy’ariy, Imam Ibnul Jauziy dll (lihat Daf’ussyubhat Attasybiih oleh Imam Ibn Jauziy).
Maka jelaslah bahwa akal tak akan mampu memecahkan rahasia keberadaan Allah swt, sebagaimana firman Nya : ”Maha Suci Tuhan Mu Tuhan Yang Maha Memiliki Kemegahan dari apa apa yang mereka sifatkan, maka salam sejahtera lah bagi para Rasul, dan segala puji atas tuhan sekalian alam” . (QS Asshaffat 180-182).
Alhamdulillaahirobbil’aalamiin
sumber dari : link Pondok Pesantren as-salafiyah mlangi sleman yogyakarta

Selasa, 17 Mei 2011

Hukum Makan Semut, Jangkerik, Lalat dan lebah

Mayoritas ulama mengatakan bahwa hewan yang dilarang membunuhnya, makadilarang juga mengkonsumsi atau memakannya. Seperti hadist yang melarangmembunuh katak ditafsirkan bahwa itu juga mengindikasikan larangan memakannya, maka para ulama sepakat melarang makan katak.
Semut:
Dalam hadist riwayat Ibnu Abbas Rasulullah s.a.w. melarang membunuh empatjenis hewan melata, yaitu semut, lebah, burung hud-hud dan burung sejenisjalak. (h.r. Abu Dawud sahih sesuai syarat sahihain). Khatabi dan Baghawi menegaskan bahwa semut di sini bukan semua jenis semut, tapi semutSulaimaniyah, yaitu semut besar yang tidak membahayakan dan tidakmenyerang manusia. Adapun semut-semut kecil yang kadang termasuk wabah dan mengganggu serta menyerang manusia, maka boleh dibunuh. Imam Malik mengatakan makruh hukumnya membunuh semut yang tidak membahayakan. Namun meskipun boleh membunuh semut, tapi sebaiknya membunuh semut dengan caratidak membakarnya, karena ada hadist yang menegaskan bahwa yang berhak menyiksa dengan api adalah Tuhan api. (h.r. Abu Dawud dari Ibnu Mas’ud).
Bagaimana dengan semut yang kadang masuk di makanan kita? Dalam kitab Tuhfatul Muhtaj, Syah Minhaj (40/403) karangan Imam Zakariya al-Anshori dijelaskan bahwa apabila semut jatuh ke madu kemudian madu itu dimasak,
maka boleh memakan semut tadi bersama madu, tetapi kalau jatuh ke dalam daging yang memungkinkan memisahkan bangkai semut tadi, maka tidak boleh memakannya dan harus dipisahkan dari daging yang dimasak. Sangat jelas,
alasan diperbolehkan makan bangkai semut bersama makanan yang tercampur adalah karena sulit memisahkannya, sejauh bisa dipisahkan dan mungkin untuk mengeluarkannya dari makanan, maka harus dilakukan dan tidak boleh
memakannya.
Imam Ghozali dalam kitab Ihya Ulumuddin (1/438) jugamenegaskan bahwa apabila semut atau lalat terjatuh ke dalam periukmakanan, maka tidak harus menumpahkan dan membuang semua makanan yang ada dalam periuk makanan tadi, karena yang dianggap menjijikkan adalah fisik bangkai semut atau lalat tadi, sejauh keduanya tidak mempunyai darah makatidak najis, ini juga menunjukkan bahwa larangan makan keduanya karena dianggap menjijikkan.
Lebah
Kebanyakan ulama mengatakan hukum lebah sama dengan semut dengan landasan hadist di atas, yaitu larangan membunuhnya dan larangan memakannya. Namun para ulama menerangkan bahwa larangan membunuh lebah karena menghasilkan madu yang berguna bagi manusia. Meskipun demikian ada beberapa pendapat lemah yang mengatakan boleh memakan lebah karena disamakan dengan belalang dan begitu juga boleh membunuh lebah karena bisa menyengat, apalagi lebah yang membahayakan dan tidak memproduksi madu.
Lalat
Melihat keterangan di atas, sangat jelas bahwa lalat haram dikonsumsi meskipun bangkainya tidak najis karena tidak mempunyai darah. Saat ini banyak kajian menjelaskan bahwa lalat membawa penyakit, ini semakin memperkuat keharaman lalat. Hadist Bukhari yang mengatakan bahwa apabila ada lalat jatuh di makanan kita maka benamkanlah lalu buanglah, oleh para ulama dianggap tidak menunjukkan halalnya lalat.
Jangkerik
Hewan jenis ini yang halal adalah belalang. Dalam satu hadist Rasulullahmenegaskan, ada dua bangkai yang halal yaitu bangkai ikan dan bangkai belalang. Selain belalang, maka dikembalikan kapada apakah hewan membahayakan atau menjijikkan, bila itu membahayakan dan menjijikkan, maka jelas diharamkan.
Wallahu a’lam bissowab
oleh Pesantren Virtual

Senin, 16 Mei 2011

Mensucikan Hati

Hati itu bagaikan kaca mata. Kalau kita menggunakan kaca mata yang bening, apa yang kita lihat akan tampak apa adanya. Yang putih akan jelas putihnya, yang coklat muda akan jelas warna aslinya. Namun kalau kita menggunakan kaca mata hitam, apa yang kita lihat tidak akan sesuai aslinya. Yang putih akan kelihatan abu muda dan warna coklat muda akan menjadi coklat tua. Demikian juga hati, kalau hati jernih, kita akan melihat realita itu apa adanya, sementara kalau hati kita kotor atau hitam, kita akan melihat realita itu tidak seperti sebenarnya.
Oleh karena itu, mulia tidaknya seseorang tidak dilihat dari tampilan lahiriahnya tapi dari performa batiniah atau hatinya.
ِانَّ اللهَ لاَيَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ (اخرجه مسلم
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta-hata kamu tapi melihat hati dan perbuatanmu.” (H.R. Muslim).
Al Qurtubi berkata, “Ini sebuah hadits agung yang mengandung pengertian tidak diperbolehkankannya bersikap terburu-buru dalam menilai baik atau buruknya seseorang hanya karena melihat gambaran lahiriah dari perbuatan taat atau perbuatan menyimpangnya.
Ada kemungkinan di balik pekerjaan saleh yang lahiriah itu, ternyata di hatinya tersimpan sifat atau niat buruk yang menyebabkan perbuatannya tidak sah dan dimurkai Allah swt. Sebaliknya, ada kemungkinan pula seseorang yang terlihat teledor dalam perbuatannya atau bahkan berbuat maksiat, ternyata di hatinya terdapat sifat terpuji yang karenanya Allah swt. memaafkannya.
Sesungguhnya perbuatan-perbuatan lahir itu hanya merupakan tanda-tanda dhanniyyah (yang diperkirakan) bukan qath’iyyah (bukti-bukti yang pasti). Oleh karena itu tidak diperkenankan berlebih-lebihan dalam menyanjung seseorang yang kita saksikan tekun melaksanakan amal saleh, sebagaimana tidak diperbolehkan pula menistakan seorang muslim yang kita pergoki melakukan perbuatan buruk atau maksiat. Demikian Imam Qurtubi menjelaskan dalam tafsirnya.
Rasulullah saw. bersabda dalam riwayat lain,
عَنْ عَلِيِّى بْنِ أَبِى طَالِبٍ رَضِيَى اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا مِنَ الْقُلُوْبِ قَلَّبَ إِلاَّ وَلَهُ سَحَابَةٌ كَسَحَابَةِ الْقَمَرِ، بَيْنَمَا الْقَمَرُ مضئى إِذْ عَلَتْهُ سَحَابَةٌ فَأَظْلَمَ، إِذْ تَجَلَّتْ عَنْهُ فَأَضَاءَ (البخارى ومسلم
“Ali bin Abi Thalib r.a. menceritakan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Tiada satu hati pun kecuali memiliki awan seperti awan menutupi bulan. Walaupun bulan bercahaya, tetapi karena hatinya ditutup oleh awan, ia menjadi gelap. Ketika awannya menyingkir, ia pun kembali bersinar.” (H.R.Bukhari dan Muslim)
Hadits ini memberikan ilustrasi yang sangat indah. Hati manusia itu sesungguhnya bersih atau bersinar, namun suka tertutupi oleh awan kemaksitan hingga sinarnya menjadi tidak tampak. Oleh sebab itu, kita harus berusaha menghilangkan awan yang menutupi cahaya hati kita. Bagaimana caranya?
1. Introspeksi diri
Introspeksi diri dalam bahasa arab disebut Muhasabatun Nafsi, artinya mengidentifikasi apa saja penyakit hati kita. Semua orang akan tahu apa sebenarnya penyakit qalbu (hati) yang dideritanya itu.
يـَاأَيُّـهَـا الَّذِيْـنَ ءَامَـنُـوْا اتَّـقُـوْا اللهَ وَلْتَـنْـظُـرْ نَـفْـسٌ مَّاقَـدَّمَتْ لِغَـدٍ وَاتَّــقُـوْا اللهَ. إِنَّ اللهَ خَـبِـيْرٌ بِـمَا تَـعْـمَلُـوْنَ {الحشر 18:59
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S.Al-Hasyr 59 : 18)
2. Perbaikan Diri
Perbaikan diri dalam bahasa populer disebut taubat. Ini merupakan tindak lanjut dari introspeksi diri. Ketika melakukan introspeksi diri, kita akan menemukan kekurangan atau kelemahan diri kita. Nah, kekurangan-kekurangan tersebut harus kita perbaiki secara bertahap. Alangkah rugi kalau kita hanya pandai mengidentifikasi kelemahan diri tapi tidak memperbaikinya.
يَـآأَيُّـهَـا الَّذِيْـنَ ءَامَـنُـوْا تُـوْبُـوْا إِلَى اللهِ تَـوْبَـةً نَّـصُـوْحًـا عَسَى رَبُّـكُمْ أَنْ يُّـكَـفِّـرْ عَـنْـكُمْ سَـيِّـئَـاتِـكُـمْ وَيُـدْخِـلَـكُمْ جَـنّـتٍ تَـجْـرِى مِنْ تَـحْـتِهَـا اْلأَنْـهَارِ ….{التحريم 8:66
“Hai orang-orang yang beriman, Bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkah kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai,..” (Q.S.At-Tahrim 66:8)
3. Tadabbur Al Qur’an
Tadabbur Al Qur’an artinya menelaah isi Al-Qur’an, lalu menghayati dan mengamalkannya. Hati itu bagaikan tanaman yang harus dirawat dan dipupuk. Nah, di antara pupuk hati adalah tadabbur Qur’an. Allah menyebutkan orang-orang yang tidak mau mentadabburi Qur’an sebagai orang yang tertutup hatinya. Artinya, kalau hati kita ingin terbuka dan bersinar, maka tadabburi Qur’an.
أَفَلاَ يَـتَـدَبَّـرُْنَ الْـقُـْرآنَ اَمْ عَلَى قُلـُوبٍ أَقْـفَـالُهَـا {محمد 24:47
“Mengapa mereka tidak tadabbur (memperhatikan) Al-Qur’an, ataukah hati mereka terkunci atau tertutup.” (Q.S.Muhammad 47 : 24)
4. Menjaga Kelangsungan Amal Saleh
Amal saleh adalah setiap ucapan atau perbuatan yang dicintai dan diridoi Allah swt. Apabila kita ingin memiliki hati yang bening, jagalah keberlangsungan amal saleh sekecil apapun amal tersebut. Misalnya, kalau kita suka rawatib, lakukan terus sesibuk apapun, kalau kita biasa pergi ke majelis ta’lim, kerjakan terus walau pekerjaan kita menumpuk. Rasulullah saw bersabda,
اِعْـمَــلُوْا عَلَى مَاتُــطِـْيقُـوْنَ فَإِنَّ اللهَ لاَيـَـمَلُّ حَتَّى تَـمَـلَّ وَاَنَّ اَحَـبَّ اْلاَعْـمَـالِ اِلىَ اللهِ اَدْوَمُـهَا وَاِنْ قَـلَّ {رواه البخارى
“…Beramallah semaksimal yang kamu mampu, karena Allah tidak akan bosan sebelum kamu bosan, dan sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang kontinyu (terus-menerus) walaupun sedikit.” (H.R. Bukhari)
5. Mengisi Waktu dengan Zikir
Zikir artinya ingat atau mengingat. Dzikrullah artinya selalu mengingat Allah. Ditinjau dari segi bentuknya, ada dua macam zikir. Pertama, zikir Lisan, artinya ingat kepada Allah dengan melafadzkan ucapan-ucapan zikir seperti Subhannallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar, Laa Ilaaha illallah, dll. Kedua, Zikir Amali, artinya zikir (ingat) kepada Allah dalam bentuk penerapan ajaran-ajaran Allah swt. dalam kehidupan. Misalnya, jujur dalam bisnis, tekun saat bekerja, dll. Hati akan bening kalau hidup selalu diisi dengan zikir lisan dan amali.
يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا اذْكُرُوْا اللهَ ذِكْرًا كَثِيْرًا .وَسَبِّحُوْاهُ بُكْرَةً وَّاَصِيْلاً {الاحزاب 33: 41-42
“Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (Q.S.Al-Ahzab 33 : 41-42)
فَاذْكُرُوْنِى أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْالِى وَلاَتَكْفُرُوْنَ {البقرة 152:2
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (Al-Baqarah 2 :152)
6. Bergaul dengan Orang-Orang Saleh
Lingkungan akan mempengaruhi perilaku seseorang. Karena itu, kebeningan hati erat juga kaitannya dengan siapakah yang menjadi sahabat-sahabat kita. Kalau kita bersahabat dengan orang yang jujur, amanah, taat pada perintah Allah, tekun bekerja, semangat dalam belajar, dll., diharapkan kita akan terkondisikan dalam atmosfir (suasana) kebaikan. Sebaliknya, kalau kita bergaul dengan orang pendendam, pembohong, pengkhianat, lalai akan ajaran-ajaran Allah, dll., dikhawatirkan kita pun akan terseret arus kemaksiatan tersebut. Kerena itu, Allah swt.. mengingatkan agar kita bergaul dengan orang-orang saleh seperti dikemukakan dalam ayat berikut.
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَوَاةِ وَالْعَشِيِّى يُرِيْدُوْنَ وَجْهَهُ. وَلاَتَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيْدُ زِيْنَةَ الْحَيَوةِ الدُّنْيَا وَلاَتُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا {الكهف 18 : 28
“Dan bersabarlah dirimu bersama orang-orang yang menyeru Tuhan mereka di waktu pagi dan petang, mereka mengharapkan keridoan-Nya, dan janganlah kamu palingkan kedua matamu dari mereka karena menghendaki perhiasan hidup dunia. Dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya; dan adalah keadaan itu melewati batas.” (Q.S. Al-Kahfi 18 : 28)
7. Berbagi Kasih dengan Fakir, Miskin, dan Yatim
Berbagi cinta dan ceria dengan saudara-saudara kita yang fakir, miskin, dan yatim merupakan cara yang sangat efektif untuk meraih kebeningan hati, sebab dengan bergaul bersama mereka kita akan merasakan penderitaan orang lain. Rasulullah saw. bersabda,
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَى اللهُ عَنْهُ : أَنَّ رَجُلاُ شَكَا إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَسْوَةَ قَلْبِهِ فَقَالَ لَهُ: إِنْ أَرَدْتَ تَلْيِيْنَ قَلْبِكَ فَأَطْعِمِ الْمِسْكِيْنَ وَامْسَحْ رَأْسَ الْيَتِيْمِ (رواه احمد
“Abu Hurairah r.a. bercerita, bahwa seseorang melaporkan kepada Rasulullah saw. tentang kegersangan hati yang dialaminya. Beliau saw. menegaskan, “Bila engkau mau melunakkan (menghidupkan) hatimu, beri makanlah orang-orang miskin dan sayangi anak-anak yatim.” (H.R. Ahmad).
8. Mengingat Mati
Modal utama manusia adalah umur. Umur merupakan bahan bakar untuk mengarungi kehidupan. Kebeningan hati berkaitan erat dengan kesadaran bahwa suatu saat bahan bakar kehidupan kita akan manipis dan akhirnya habis. Kesadaran ini akan menjadi pemacu untuk selalu membersihkan hati dari awan kemaksiatan yang menghalangi cahaya hati. Rasulullah saw. menganjurkan agar sering berziarah supaya hati kita lembut dan bening.
عَنْ اَنَسٍ رَضِيَى اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُوْرِ فَزُوْرُوْهَا، فَإِنَّهَا تَرِقُّ الْقَلْبَ وَتُدْمِعُ الْعَيْنَ وَتُذَكِّرُ اْلأخِرَةَ (رواه الحاكم
“Anas r.a. mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Dulu, aku pernah melarang kalian berziarah ke kuburan. Namun sekarang, berziarahlah, karena ia dapat melembutkan hati, mencucurkan air mata, dan mengingatkan akan hari akhirat.” (H.R.Hakim)
9. Menghadiri Majelis Ilmu
Hati itu bagaikan tanaman, ia harus dirawat dan dipupuk. Di antara pupuk hati adalah ilmu. Karena itu, menghadiri majelis ilmu akan menjadi media pensucian hati. Rasulullah saw. menyebutkan bahwa Allah swt. akan menurunkan rahmat, ketenangan dan barakah pada orang-orang yang mau menghadiri majelis ilmu dengan ikhlas.
لاَيَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُوْنَ اللهَ اِلاَّ حَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةِ وَغَشِيَتْهُمً الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ {رواه مسل
“Tidak ada kaum yang duduk untuk mengingat Allah, kecuali malakikat akan menghampirinya, meliputinya dengan rahmat dan diturunkan ketenangan kepada mereka, dan Allah akan menyebutnya pada kumpulan (malaikat) yang ada di sisi-Nya.” (H.R. Muslim)
10. Berdo’a kepada Allah swt.
Allah swt. Maha Berkuasa untuk membolak balikan hati seseorang. Karena itu sangat logis kalau kita diperintahkan untuk meminta kepada-Nya dijauhkan dari hati yang busuk dan diberi hati yang hidup dan bening. Menurut Ummu salamah r.a,. do’a yang sering dibaca Rasulullah saat meminta kebeningan hati adalah: Ya Muqallibal quluub, tsabbit qalbii ‘alaa diinika (Wahai yang membolak-balikkan qalbu, tetapkanlah hatiku berpegang pada agama-Mu). Perhatikan riwayat berikut,.
عَنْ شَهْرِ بْنِ حَوْشَبٍ قَالَ : قُلْتُ لأُمِّ سَلَمَةَ، يَاأُمَّ الْمُؤْمِنيْنَ مَاكَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ عِنْدَكِ؟ قَالَتْ: كَانَ أَكْثَرُ دُعَائِهِ يَامُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ، ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِيْنِكَ قَالَتْ: قُلْتُ: يَارَسُوْلَ اللهِ، مَاأَكْثَرُ دُعَائِكَ يَامُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِيْنِكَ؟ قَالَ: يَا أُمَّ سَلَمَةَ إِنَّهُ لَيْسَ آدَمِيٌّ إِلاَّ وَقَلْبُهُ بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللهِ. فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ (اخرجه احمد

Jumat, 13 Mei 2011

Pendidik Dalam Pandangan Islam


(Hidayaturrahman M.pdi)

A.  Pendahuluan
            Tak akan ada perubahan dalam hidup,  kecuali diawali oleh tindakan. Dan tidak akan ada sebuah tindakan yang hadir dalam hidup seseorang kecuali ia lahir dari alam pikiran. Dan kumpulan pikiran-pikiran yang mengerakkan fisik untuk melahirkan tindakan tak akan pernah ada kecuali ia muncul dari ilmu.  Dan ilmu sendiri tak akan pernah didapat kecuali lewat pembelajaran. Baik belajar secara mandiri ataupun belajar lewat bimbingan para pendidik. Jadi akar sebuah perubahan adalah pembelajaran. Dengan kata yang lebih tegas tak akan ada sebuah perubahan dalam sekala mikro ataupun makro kecuali lewat pembelajaran.
            Itulah rahasianya kenapa ayat yang pertama turun adalah surat Al ‘Alaq. “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam[Allah mengajar manusia dengan perantaraan tulis baca.] Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”[1]
Surat ini berbicara tentang pembelajaran secara utuh. Utuh dalam artian bahwa ayat ini sedikitnya memuat tiga hal penting, pertama; Pembelajaran yang menghasilkan ilmu. Ini bermakna bahwa pembelajaran itu adalah sarana untuk mengoptimalkan potensi manusia baik; hati, akal dan penglihatan (fisik) untuk mememukan sesuatu yang bermakna dalam hidup ini, yaitu ilmu. Kedua; pembelajaran yang membimbing manusia menggunakan ilmu untuk mengagungkan pemilik ilmu yang sesungguhnya; Allah. Artinya, Ilmu yang melahirkan kemaslahatan baik  bagi dirinya ataupun bagi kemanusian yang tujuan ahirnya adalah semata-mata dalam rangka memuji dan mengagungkan Allah. Karena hanya dengan mengagungkan Allah hidup jadi bermakna dan mulia. Itulah mungkin rahasianya kenapa setelah turun surat Al-‘Alaq turun surat Al- Mudatstsir yang salah satu titik tekannya adalah untuk mengagungkan Allah; Dan agungkanlah Tuhanmu[2]. Ketiga; Pembelajaran yang mewariskan ilmu pada generasi yang akan datang. Artinya ilmu yang telah didapat semestinya didokumentasikan dengan tulisan sehingga generasi berikutnya dapat melajutkan, mengkritisi dan menyempurkan serta menikmati ilmu itu. Disinilah letak pentingnya kenapa pada ayat ini kata “Qolam” yang berarti pena - yang fungsinya untuk menulis - disebut dua kali.
            Jika pembelajaran merupakan pangkal dari sebuah perubahan kearah kebaikan,  dan pembelajaran juga mengantarkan manusia untuk mengenal dirinya dan mengenal Tuhannya serta cara memuliakan sesama manusia. Maka pendidik yang mengawal sebuah proses pembelajaran tentu sangat memiliki peran yang sangat signifikan dalam kehidupan ini. Begitu pentingnya peran para pendidik maka membahasnya dalam sebuah kerangka pemikiran yang komprehensif merupakan sebuah kebutuhan dan keniscayaan.
B.     Makna pendidik
Pendidik bisa berarti guru, orang tua dan tokoh masyarakat, atau setiap orang  yang memiliki aktivitas mendidik, seperti pendapat berikut ini;
“Pendidik secara fungsional menunjukkan kepada seseorang yang melakukan kegiatan  dan memberiakan pengetahuan, keterampilan, pendidikan, pengalaman, dan sebagainya. Orang yang melakukan kegiatan ini biasa siapa saja dan dimana saja. Di rumah, orang yang melakukan tugas tersebut adalah orang tua, karena secara moral dan teologis merekalah yang diserahi tanggung jawab mendidik anaknya. Selanjutnya di sekolah tugas tersebut dilakukan oleh guru, dan dimasyarakat dilakukan oleh organisasi –organisasi kependidikan dan sebagainya. Atas dasar ini, maka yang termasuk dalam pendidik itu bisa kedua orang tua, guru dan tokoh masyarakat dan sebagainya.“ [3]   
Namun demikian, kata pendidik sering lekat dengan kata guru. Sebab seseorang yang disebut guru sudah bisa dipastikan ia telah melakukan  aktivitas mendidik di setiap harinya. Berbeda dengan orang tua atau tokoh masyarakat yang belum tentu mau dan mampu melakukan aktivitas mendidik, sehingga mereka tidak otomatis disebut pendidik. Maka cukup beralasan jika dibeberapa literatur kependidikan kata pendidik sering diwakili oleh kata guru. “Dalam beberapa literatur kependidikan pada umumnya istilah pendidik sering diwakili oleh istilah guru”[4]
Dikalangan  masyarakat sudah terlanjur pendidik itu adalah guru itu sendiri. “Guru adalah orang yang memberikan ilmu pengetahuan  kepada anak didik. Guru dalam pandangan masyarakat adalah orang yang melaksanakan pendidikan di tempat-tempat tertentu, tidak mesti di  lembaga formal, tetapi bisa juga di masjid, di surau/musala, di rumah, dan sebagainya[5]
Guru juga merupakan patner orang tua, karena ia telah berusaha membantu dan meringankan beban yang menjadi tanggung jawab orang tua. “Guru adalah pendidik profesional, karenanya secara implisit ia telah merelekan dirinya menerima dan memikul sebagian tanggung jawab pendidikan yang terpikul di pundak para orang tua”[6].
Semestinya yang paling layak untuk menyandang gelar pendidik adalah orang tua. Sebab orang tua yang telah dikarunia anak oleh Allah dengan sendirinya ia telah menjadi guru bagi anak-anaknya. Sebab yang paling bertanggung jawab terhadap pendidikan anak adalah orang tuanya. Jadi idealnya ketika seseorang siap menjadi orang tua maka ia telah siap pula menjadi guru bagi anak-anaknya. Itulah sebabnya kenapa dalam Islam perintah mendidik anak adalah kewajiban orang tua. Ahmad Tafsir mengatakan, “bahwa  dalam Islam orang yang paling betanggung jawab dalam mendidik adalah orang tua (ayah-Ibu) anak didik”.[7]

C. Pendidik dalam Islam
            Pendidik dalam prespektif Islam menurut Hasan Langgulung adalah orang-orang  yang bertanggung jawab terhadap perkembangan peserta didik dengan mengupayakan perkembangan seluruh potensi peserta didik, baik potensi afektif, kognitif, maupun psikomorik seseuai dengan nilai-nilai ajaran Islam[8]
              Hampir mirip dengan apa yang disampaikan oleh Hasan Langgulung. “Pendidik dalam prespektif Islam ialah orang yang bertanggung jawab terhadap upaya perkembangan jasmani dan rohani peserta didik agar mencapai tingkat kedewasaan sehingga ia mampu menunaikan tugas-tugas kemanusiaannya ( baik sebagai khalifah fi al-ardh maupun ‘abd) sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam”.[9]
            Dari paparan diatas dapatlah dipahami bahwa pendidik memiliki dua peran. Pertama; menyampaikan ilmu kepada anak didiknya.  Kedua; bertanggung jawab agar anak  didiknya menjadi ‘abd (hamba) Allah yang mampu beribadah dengan  baik pada-Nya. Dari kedua peran ini, peran pertama mungkin relatif agak mudah, namun peran kedua ini  patut mendapat porsi renungan lebih dalam, sebab pada peran kedua ini ada proses bagaimana caranya agar ilmu yang didapat oleh anak didik mampu meresap pada seluruh warna perasaannya dan bermuara pada jiwanya. Kemudian ilmu yang bermuara pada jiwa mampu melahirkan sikap untuk senantiasa mengangungkan sang pemilik ilmu; Allah. Disinilah makna ‘abd (hamba) yang dengan ilmunya beribadah pada Allah.
     Dengan demikian dalam Islam posisi pendidik dapat dilihat dari dimensi kemanusian dan ketuhanan sekaligus. Dengan kata sederhana, pendidik memiliki peran ganda ia sebagai pelaku dan sekaligus perantara. Sebagai pelaku karena ia yang menyampaikan ilmu kepada anak didiknya, namun juga sebagai perantara karena ia menjadi perantara hadirnya hidayah Allah kepada anak didiknya; inilah dimensi ketuhanan. Sebab tak ada seorangpun atau malaikat sekalipun dan bahkan nabi dan rasulpun yang mampu menghadirkan hidayah pada seseorang atau pada anak didik, itu hanya hak Allah semata, itu rahasianya kenapa Allah berfirman;
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِين Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.[10]

D. Siapakah pendidik dalam Islam ?
Dalam Al qur’ah secara garis besar pendidik itu ada empat;[11]
1.                  Allah SWT. Sebagai guru, Allah SWT menginginkan ummat manusia  menjadi baik dan bahagia hidup di dunia dan di akhirat. Karena itu, mereka harus memiliki etika dan pengetahuan. Untuk mencapai tujuan tersebut Allah mengirim nabi-nabi yang patuh dan tunduk pada kehendakNya. Para Nabi menyampaikan ajaran Allah pada ummat manusia. Ajaran yang diterima ummat manusia itu dapat memberi petunjuk mengenai kebahagian hidup didunia dan di Akhirat.
Allah sebagai guru dapat di pahami dari uraian bahwa, Allah memiliki pengetahuan yang amat luas. Ia juga sebagai pencipta. Ini memberi isyarat bahwa sebagai guru hendaknya mampu memerankan peran sebagai seorang peneliti yang mememukan temuan-temuan baru. Sifat Allah sebagai guru adalah pemurah dalam arti tidak kikir dengan ilmuNya; Maha Tinggi, Penentu, Pembimbing, perkasa, mengetahui kesungguhan manusia yang beribadah kepadaNya, mengetahui siapa yang baik dan yang buruk, Mengusai cara-cara (metode) dalam membina hambaNya antara lain melalui penegasan, perintah, pemberitahuan, kisah, sumpah, pencelaan, hukuman, keteladanan, pembatahan, mengemukakan teka-teki , mengajukan pertanyaan, memperingatkan, mengutuk dan meminta perhatian. (lihat Qs; Al-‘Alaq, Al-qolam, Al Muzammil, Al Mudassir, Al-lahab, al-takwir, dan al-‘A’la)  
2.      Nabi Muhammmad. Beliau ditunjuk lansung oleh Allah untuk menjadi pendidik bagi manusia. Perhatikan ayat ini; يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ  قُمْ فَأَنْذِرْ وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ Hai orang yang berkemul (berselimut), Bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Tuhanmu agungkanlah! Dan pakaianmu bersihkanlah, Dan perbuatan dosa tinggalkanlah.
3.     Orang tua; Al Qur’an menyebutkan sifat-sifat yang harus dimiliki oleh orang tua sebagi guru, yaitu memiliki hikmah atau kesadaran tentang kebenaran yang diperoleh dari ilmu dan rasio; dapat bersyukur kepada Allah, suka menasehati anaknya agar tidak mensekutukan Allah, memerintahkan anaknya agar mendirikan sholat, sabar dalam menghadapi penderitaan. (lihat Qs;  Lukman ayat; 12-19).
4.      Orang lain; pehatikan bagaimana Al qur’an menceritakan tentang  kisah Nabi khidir yang menjadi guru  bagi Nabi Musa. (lihat Qs Al Kahfi ayat 60-82).

E.    Persyaratan Pendidik
Begitu mulianya peran seorang guru maka memenuhi prasyarat dibawah ini adalah sebuah keniscayaan. Prof.Dr. Zakiah Darajat dan kawan-kawan memberikan prasyarat yang harus dipenuhi oleh seorang pendidik, diantaranya;
1.      Takwa kepada Allah
2.      Berilmu
3.      Sehat Jasmani
4.      Berkelakuan baik, diantara ahklak guru tersebut adalah;
a.       Mencintai jabatannya sebagai guru
b.      Bersikap adil terhadap semua muridnya
c.       Berlaku sabar dan tenang
d.      Guru harus berwibawa
e.       Guru harus gembira
f.       Guru harus bersifat manusiawi
g.      Bekerja sama dengan guru-guru yang lain
h.      Bekerja sama dengan masyarakat  [12]
Sementara undang-undang no,12 tahun 1945 tentang dasar-dasar pendidikan dan pengajaran seluruh Indonesia, pada pasal 15 dinyatakan tentang guru sebagai berikut;  Syarat utama untuk menjadi guru, selain berijazah dan syarat-syarat mengenai kesehatan jasmani dan rohani, ialah sifat-sifat  yang perlu untuk dapat memberi pendidikan dan pengajaran seperti yang dimaksud dalam pasal 3,4, dan 5 undang-undang ini. Pasal 3,4 dan 5 cukup panjang. Untuk mengetahui inti dari syarat-syarat di atas Ngalima purwanto memberikan kesimpulanya seperti ini, syarat –syarat menjadi guru adalah;
a.       Berijazah
b.      Sehat jasmani dan rohani
c.       Takwa kepada Tuhan YME dan berkelakuan baik.
d.      Beartanggun jawab
e.       Berjiwa nasional[13]

F.    Adab  Pendidik
Ilmu didapat lewat perantaraan guru. Namun patut diingat, pada hakikatnya yang membuat murid atau anak didik memahami ilmu adalah Allah, bukan guru. Sebagaimana FirmanNya, “Dialah (Allah)  yang mengajari manusia dari apa yang tidak diketahuinya[14] Ilmu yang hendak Allah berikan pada seseorang ibarat energi listrik sementara guru adalah kabel dan murid adalah lampunya. Jika ada kabel yang tersambung dengan lampu namu tidak ada energi listrik didalam kabel maka selamanya lampu tak akan perna menyala. Oleh karenanya agar guru yang berperan sebagai ‘kabel’ mampu mewadahi dan menampung seluruh energi listrik yang akan menyalakan ‘lampu’ sang murid, maka adab guru berikut ini menjadi niscaya untuk dipenuhinya;
 (1) Belas kasih kepada murid dan memperlakukannya sebagai anak. (2) Meneladani Rasulullah saw dengan tidak meminta upah mengajar, tidak  semata-mata karena Allah dan taqarrub kepada-Nya. (3) Tidak meninggalkan nasehat kepada murid sama sekali, seperti melarangnya dari usaha untuk beralih kepada suatu tingkatan sebelum berhak menerimanya dan mendalami ilmu tersembunyi sebelum menguasai ilmu yang jelas. Kemudian mengingatkan murid bahwa tujuan mencari ilmu adalah taqarrub kepada Allah ta’alah bukan untuk meraih kekuasaan, kedudukan dan persaingan. (4) Ini termasuk pelik-pelik tugas mengajar yaitu mencegah murid dari akhlak tercela dengan cara tidak langsung dan terang terangan sedapat mungkin dan dengan kasih sayang bukan dengan celaan. (5) Guru yang menekuni sebagian ilmu hendaklah tidak mencela ilmu-ilmu yang tidak ditekuninya. (6) Membatasi sesuai kemampuam pemahaman murid. (7) Murid yang terbatas kemampuannya sebaiknya disampaikan kepadanya hal-hal yang jelas dan cocok dengannya, (8) Hendaknya guru melaksanakan ilmunya; yakni perbuatannya tidak mendustakan perkataannya, karena ilmu diketahui dengan mata hati (bashirah) dan amal diketahui dengan  mata, sedangkan orang yang memiliki mata jauh lebih banyak.[15]
G. Tugas pendidik
Tugas pendidik dapat dijabarkan dalam beberapa pokok pikiran, yaitu;
1.              Sebagai pengajar (instruksional) yang bertugas merencanakan program pengajaran, melaksanakan program yang disusun, dan ahirnya dengan pelaksanaan penelian setelah program tersebut dilaksananakan
2.              Sebagai pendidik( edukator) yang mengarahkan peserta didik  pada tingkat kedewasaan kepribadian sempurna (insal kamil), seiring dengan tujuan penciptaanNya.
3.              Sebagai pemimpin (managerial) yang memimpin, mengendalikan diri (baik diri sendiri, perserta didik, maupun masyarakat), upaya pengarahan, pengawasan, pengorganisasian, pengontrolan, dan partisipasi atas program yang dilakukan[16]


Kesimpulan
1.      Pendidik secara fungsional adalah siapapun yang melakukan aktivitas mendidik pada anak didik kapan dan dimanapun. Dalam hal ini pendidik bisa berarti; Allah, Nabi, orang tua, guru, tokoh masyarakat.
2.      Pendidik secara profesi atau dengan keahlian tertentu yang melekat pada dirinya dan tugasnya yang berkaitan dengan pendidikan adalah orang yang memiliki aktivitas mendidik di institusi pendidikan dengan syarat-syarat tertentu. Dalam hal ini pendidik bermakna guru atau dosen.
3.      Pendidik dalam Islam baik secara fungsional ataupun profesi, hendaknya berusaha semaksimal mungkin melejit potensi anak didiknya, baik potensi intelektual, emosional dan spiritual sehingga anak didik mampu ‘tersenyum renyah’ baik di dunia maupun di akhirat. Dengan kata lain anak didik mampu membagi ‘senyum warisan’ bagi peradaban dunia dan ahirnya ia mendapatkan ‘senyuman manis nan abadi’ dari Tuhannya; Allah.
4.      Pendidik dalam Islam adalah arsitek peradaban, karena ia meniupkan ruh pada anak didiknya untuk menjadi khalifah fi al ‘ardh; perangcang dan pengendali peradaban dunia dengan ‘warna-warna indah’ Islam sehingga peradaban dunia seindah dan secerah pelangi di puncak terangnya.
5.      Pendidik sebagai arsitek peradaban juga meniupkan ruh kesadaran pada anak didiknya, bahwa semua potensi, semua kesuksesan adalah milik Allah dan titipan dariNya, maka semua karya-karya kesuksesan sepenuhnya dipergunakan untuk beribadah kepadaNya, tak terkecuali kesuksesannya mewarnai perdaban dunia. Maka terjelmalah peradaban yang sejuk, sesejuk udara pegunungan Bogor di puncak malamnya.  
6.      Ahirnya pendidik yang islami adalah pendidik yang lincah mengembangkan potensi dirinya dan tak putus menyambungkan sumbu jiwanya pada Tuhannya; Allah. Semoga. Amin.     


[1]  Qs : 95 (Surat Al-‘alaq); 1-5.
[2] Qs: 74 (al-Mudatstsir); 3
[3]Prof. Dr. H. Abuddin Nata, MA, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta, Gaya Media Pratama,2005) hal.114
[4]Prof. Dr. H. Abuddin Nata, MA, Filsafat Pendidikan Islam,hal.114
[5]  Drs. Syiful Bahri Djamarah, M.Ag, Guru Dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif, (Rineka Cipta, 2005), cet. 3, hal. 31
[6] Dr. Zakiah Darajat dkk, Ilmu pendidikan Islam,hal.39
[7]Dikutip oleh Prof. Dr. H. Abuddin Nata, MA, Filsafat Pendidikan Islam,hal.114
[8] Dikutip oleh DR. H. Samsul Nizar, M.A, Filsafat Pendidikan Islam pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), hal. 41
[9] DR. H. Samsul Nizar, M.A, Filsafat Pendidikan Islam pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis, hal. 42
[10] Al Qoshos ; 56
[11] Prof. Dr. H. Abuddin Nata, MA, Filsafat Pendidikan Islam,hal.117-119
[12] Dr. Zakiah Darajat dkk, Ilmu pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), hal. 41
[13] Drs. M. Ngalim Purwanto, MP,  Ilmu pendidikan Teoritis dan Praktis, (Bandung: Rosda Karya, 1995), hal. 139
[14] Qs; Al ‘Alaq (96) ayat 5
[15] Sa’id Hawa, Mensucikan Jiwa; Intisari Ihya’ Ulumuddin Al Ghazali, edisi Terj, (Jakarta: Rabbani Press ,1998)  hal. 20-24
[16] DR. H. Samsul Nizar, M.A, Filsafat Pendidikan Islam pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis, hal.  44